Kamis, 04 Agustus 2011

Terobsesi Cinta Satu Malam

lonely1Kedengarannya memang gila. Tapi itulah kenyataan yang kualami sepanjang hidupku kini. Aku terobsesi pada seorang perempuan yang belasan tahun lalu pernah menemaniku semalam di pulau Bali. Saat itu aku masih begitu muda, 16 tahun, kelas dua es em a. Tak ada yang kami lakukan waktu itu selain ngobrol semalaman, setelah siangnya puas berjalan-jalan menikmati indahnya... beberapa kawasan di pulau  Bali. Bahkan akupun tak sempat tahu siapa nama panjangnya kecuali Via, seperti saat pertama dia mengenal dan menjabat tanganku hangat.

Via, via, via ... hanya nama itu yang selalu kuingat. Saat itu, kulihat dia terpisah dari teman-teman rombongan wisatanya, sebuah es em a di Jawa Tengah.Kebetulan aku juga sedang malas ngikuti gengku yang sudah semburat mencari kesenangan sendiri-sendiri setelah tiga hari kami mengitari pulau dewata. Tepat di pelataran luar pure Besakih, aku - sebut saja AR dan Via, bertemu. Dia hanya menjawab 'sedang berhalangan' saat kutanya kenapa tidak ikut masuk pure. Entahlah, Via memang berbeda. Bahkan aku sendiri tidak tahu, mengapa tiba-tiba ada ketertarikan luar biasa untuk lebih mengenal dia begitu aku melihat wajahnya, mengamati gesture tubuhnya, dan cara dia menjawab pertanyaanku. Kalimatnya pendek-pendek, bahkan sedikit tak acuh dan galak.

Tapi di sisi lain, aku merasa ada nada bijak di sana, seperti ada magnet yang membuat perempuan yang sebenarnya sih sangat biasa itu jadi begitu menyita perhatianku. Ah entahlah .. mungkin aku memiliki kelainan jiwa. Singkat kisah, aku sendiri juga tak tahu persis bagaimana awalnya ketika akhirnya kami tiba-tiba terlibat dalam obrolan hangat, bahkan saling tertawa-tawa, saling bercerita seperti sahabat lama. Ajaib! Padahal kami baru bertemu beberapa jam sebelumnya. Bahkan keakraban itu berlanjut malam harinya setelah usai acara makan malam dia bersama rombongannya. Kebetulan penginapanku tak jauh dari penginapannya sehingga aku bisa bertandang ke penginapan kecilnya. Kami hanya mengobrol di teras, tak lebih ... Sementara esoknya, dia mengatakan sudah balik ke kotanya, begitu juga aku yang juga berencana balik ke kotaku, Surabaya, bersama gengku yang jumlahnya lima orang.

Tepat pukul 0.00 WIB, seorang guru yang rupanya adalah ketua rombongan Via mengingatkan kami agar menyudahi obrolan karena waktunya istirahat. Akupun berpamitan .. Sungguh ..aku sendiri tak tahu mengapa begitu berat jadinya. Padahal siapa sih Via? Dia adalah orang yang barusan kukenal ..Namun rasanya aku sudah mengenalnya selama bertahun-tahun .. Dengan berat hati pula aku memintanya agar tetap berhubungan .. kuberi dia nama lengkap, alamat sekolah agar dia bisa berkirim kabar padaku setiap saat. Dia menerima secarik kertas yang kusodorkan itu dengan tersenyum.

Aku tak tahu apa arti senyumannya itu. Namun yang jelas, dia sama sekali tak membalas ataupun menjanjikan apapun kecuali hanya tersenyum, lalu memberi isyarat agar aku segera meninggalkan tempat itu. "Tau enggak kamu, pacarku pencemburu," begitu katanya, singkat, lalu beranjak dari hadapanku.Itulah terakhir kali aku bertemu. Bila menuliskan kisah pertemuanku dengannya, rasanya aku akan menjadi begitu sentimentil, jadi begitu pintar mengolah kata-kata .. jadi seperti pujangga. Padahal, sungguh .. semua orang sekitarku tahu bagaimana aku ... paling enggak suka dengan para sastrawan!!

Aku orang yang lebih suka praktis dan bermain-main dengan logika dibandingkan dengan khayalan-khayalan tak berguna. Tapi itulah kenyataannya. Mungkin ini peringatan Tuhan agar aku tidak terlalu underestimate dengan kesukaan orang lain yang aku tak suka. Usai pertemuan itu, aku berulangkali berkirim surat kepadanya, meski dengan nama yang sangat singkat "Via", dengan alamat sekolah, sebatas yang aku tahu. Tak satupun terbalas .. hingga aku lulus es em a .. hingga aku kuliah .. nama itu bagaikan mimpi yang raib ditelah siang. Anehnya, sepanjang waktu itu juga aku terus berharap dan menjauhkan diri dari cinta perempuan yang banyak mendekat.

Aku yakin, pembaca yang budiman tidak akan percaya dengan kenyataan ini .. seperti aku sendiri yang terkadang tidak percaya bagaimana ini bisa menimpa hidupku. Bagaimana aku bisa begitu terobsesi dengan satu sosok perempuan misterius yang hadir hanya sehari setengah malam itu .. bahkan pacarpun bukan. Mungkin hanya psikolog yang bisa menjelaskan semua ini.

Waktu berlalu. Akupun mulai menata hidup dan memikirkan masa depandengan berwirausaha, bisnis di bidang IT. Umur yang semakin beranjak akhirnya membuat aku laun melupakan Via (meski kuakui begitu sulit). Aku juga mulai berupaya membangun puing-puing hatiku dengan berpacaran dengan EN yang kebetulan adalah anak seorang pengusaha yang cukup beken di kotaku.

Ya aku mengenalnya, karena kebetulan juga aku menjadi rekanan di perusahaan ayahnya. Namun yang jelas, background sosial kami jauh berbeda.Itulah yang akhirnya membuat ritme hubungan kami jadi terseok-seok. Sebagai laki-laki, dengan segala upaya, aku berusaha meyakinkan keluarga EN bila aku mampu melindungi dan membawa hubungan kami berdua ke arah yang lebih baik. Aku serius dan akan bertanggungjawab atas risiko apapun. Dengan berat hati, mungkin juga karena melihat umur EN dan cintanya yang begitu begitu besar padaku, keluarga EN luluh. Mereka merestui kami menikah di usiaku yang tepat ke 33.

Tiga tahun pernikahan kami, ternyata riak-riak itu muncul. Sejauh itu kami belum mendapatkan keturunan. Sebagai satu-satunya anak perempuan, keluarga EN mulai gusar, dari nada bicara, mereka menudingku sebagai lelaki yang tak mampu memberikan keturunan. Padahal, sungguh, kami sudah berulangkali mengecek kesehatan .. tidak ada yang salah diantara kami. Baik aku maupun EN sama-sama tidak ada masalah dan kamipun mencoba menyikapi itu dengan bijak.

Ternyata, kami tidak sekuat itu. Berbagai tekanan, membuat psikis EN menjadi goyah. Dia mulai berubah sikap, sering marah-marah tak tentu .. akupun jadi sering terbawa suasana itu. Kalut, bahkan emosi. Puncaknya adalah ketika kami bertengkar hebat, lalu tiba-tiba EN memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pulang ke rumah orangtuanya yang di Jakarta. Aku tak kuasa mencegahnya. Bahkan, dia sama sekali tak mau menemuiku ketika aku berupaya menjemputnya ke Jakarta. Aku hanya bertemu dengan bapak mertuaku yang kelihatannya juga mulai tidak welcome dengan kehadiranku.

Ah sudahlah, aku berfikir semuanya pasti akan reda pada akhirnya. Sebulan, dua bulan, aku terus berupaya membujuk EN agar kembali, namun sia-sia. Pengaruh keluarganya ternyata lebih kuat dibandingkan aku. Ironisnya, bukannya berupaya mendamaikan kami. EN malah 'dikirimkan' keluarganya ke Luar negeri, tinggal dengan kerabatnya di sana.

Apa yang bisa kulakukan, hanya menyerahkan waktu akan berpihak kepadaku. Namun tetap satu yang ada dalam niatku .. aku ingin semuanya berjalan dengan baik. Aku tak akan pernah menceraikan atau menggugat cerai EN sebelum aku bertemu langsung dengannya dan mendengar sendiri dari mulutnya bila dia memang benar-benar menghendakiku berlalu dari hidupnya. Satu hal yang sampai sekarang tak kudapatkan.
Di tengah kegundahanku, aku mulai mengisi hari-hari dan waktu luangku dengan kegiatan balapan motor dan sekali-kali iseng bermain-main dengan facebook.

Itulah awalnya. Aku menemukan satu profil yang sepertinya pernah aku kenal, tapi sangat jauh berbeda penampilan. Dia kelihatan jauh lebih matang, religius, dan .. makin cantik. Namanya juga lain, bahkan tak ada satu unsurpun di dalamnya. Dia seperti Via .. perempuan yang pernah kukenal belasan tahun itu. Ada beberapa tanda yang tak mungkin aku melupakannya. Setelah berteman dengannya, aku mulai mencoba berinteraksi dengannya .. tapi sungguh sulit mengorek secuilpun keterangan darinya. Dia sangat misterius dan sama sekali tak mengakui bila dia pernah bertemu denganku. Padahal, dari foto-foto lama semasa sekolah yang ada di albumnya, aku yakin dia itu Via-ku .. Bahkan ada juga foto yang di Bali itu dengan teman-temannya.

Bukan hanya menghindar untuk berinteraksi denganku, belakangan dia malah menghilang seperti ditelan bumi. Duh, mengapa kamu begitu .. Via ?? Namun siapapun sesungguhnya kamu, ternyata kamu memang benar-benar ada dan aku masih saja mengingat dan terganggu lagi oleh hadirmu .. hanya saja aku tak mampu menggapai, apalagi menyentuhmu. Dimanapun kamu berada, semoga kamu bahagia ..Via .. Sementara aku di sini .. berspekulasi dengan keadaan yang semakin tak menentu. Duh Tuhan .. mengapa hanya aku yang punya cinta ini ... apakah mereka, dua perempuan yang kusayangi itu tidak??

Surabaya, 0101011

Berita Terkait ARISKU cek TKP GAN



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar