Kamis, 18 Agustus 2011

Kata Yusril : Pidato SBY Seperti Pengajian Ramadan, SBY Seorang Penakut

 Jakarta - Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal Malaysia ditanggapi beragam oleh banyak pihak. Ada yang memuji ada pula yang menghujat. Mantan Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra menilai pidato SBY menunjukkan kalau SBY seorang penakut...



"Kita sendiri merasa rendah diri berhadapan dengan Malaysia, karena banyaknya rakyat kita yang mencari makan di negara itu. Malaysia melihat kita lemah. Pemimpinnya juga tak bernyali jika berunding dengan pihak manapun. Jangankah dengan Malaysia, dengan Singapura saja kita sering bersikap lemah," kata Yusril dalam rilis yang diterima detikcom, Rabu (1/9/2010) malam.

Tersangka kasus korupsi Sisminbakum ini mengatakan, rakyat menunggu pidato presiden mengenai hubungan Indonesia Malaysia pasca insiden penangkapan petugas DKP oleh petugas Malaysia di wilayah laut RI. Semua pihak menyangka, karena diucapkan di Markas Besar TNI di Cilangkap, pidato itu akan menggelegar untuk menunjukkan kekuatan dan harga diri kita sebagai sebuah bangsa.

"Namun yang terdengar bukannya pidato menggelegar, melainkan hanyalah seperti pengajian bulan Ramadan, yang lebih banyak bernuansa tausiyah dan harapan, sambil mengungkapnya berbagai hal yang sudah diketahui umum," tuding Guru Besar HTN UI ini.

Yusril menjelaskan, sikap presiden yang ingin menyelesaikan ketegangan Indonesia-Malaysia dengan mempercepat perundingan masalah perbatasan dan 'mendorong Malaysia' untuk segera menyelesaikannya bukan masalah baru. Perundingan perbatasan baik darat maupun laut dengan Malaysia selama ini tak membawa kemajuan berarti.

"Malaysia datang dengan sikap arogan, tak sedikitpun ingin mengalah. Mereka menyadari bahwa mereka hadir ke meja perundingan dengan posisi yang lebih kuat. Secara ekonomi dan militer, kekuatan Malaysia sudah berada di atas kita," tukasnya.

Insiden pelecehan kedaulatan wilayah Indonesia telah berulang kali dilakukan Malaysia. SBY dituntut untuk lebih tegas menjaga martabat bangsa.

"Ketegasan seperti itu yang ditunggu-tunggu rakyat, bukan menulis surat kepada PM Malaysia yang jangankan dijawab, malah dilecehkan karena ulah segelintir orang yang mendemo Kedubes Malaysia di Jakarta," imbuh Yusril.

Suatu hal yang dilupakan Presiden dalam pidatonya ialah mengungkapkan bahwa kita adalah bangsa serumpun, yang seharusnya kompak menghadapi tantangan dunia masa depan. Presiden harus mengingatkan Malaysia bahwa kemajuan dan ketertinggalan sebuah bangsa hanyalah masalah waktu. Dulu Indonesia kuat, Malaysia lemah. Sekarang Malaysia kuat, Indonesia lemah. Tapi semua itu bisa berbalik lagi.

"Menyimak pidato Presiden SBY malam ini, membuat kita rindu memiliki Presiden yang cerdas dan bernyali untuk membangun harga diri bangsanya. Kita rindu Presiden yang punya keberanian bersikap, bukan Presiden yang lemah yang membuat harga diri bangsa menjadi porak poranda dan kita dengan mudah dipermainkan oleh bangsa-bangsa lain," tutupnya.

Sumber Berita : Detik.com

Berita Terkait ARISKU cek TKP GAN



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar